Senin, 24 April 2017

Mainan dari Kardus Bekas

TANTANGAN LEVEL 4.6

How amazing this!!
Sayang sekali sedang tidak berada di Surabaya. Jadi tidak bisa memfotokan hasil karya Ibu untuk saya jaman dahulu.
Benar-benar 'Priceless gift'
Betul sekali.. Saya masih menyimpannya rapi di rumah Surabaya. Berharap suatu saat nanti jika saya memiliki anak perempuan saya bisa mewariskannya.. Hehe.. Emak-emak nggak modal ya..

Entahlah saat itu yang terpikir adalah karena saya sangat menyukainya dan ingin sekali jika kelak punya anak perempuan, saya bisa bercerita bahwa neneknya pernah membuatkan Ibunya mainan yang tak ternilai harganya. Tidak kalah menarik dengan mainan yang dijual di toko-toko.

Mainan apa sih?
Hehe.. Sederhana sebenarnya.
Mainan yang terbuat dari kardus susu, kotak korek api,  kardus pasta gigi, kardus sabun, kardus rokok yang dibungkus kertas kado warna warni. Kemudian disusun sedemikian rupa dan dibentuk menyerupai perabotan rumah tangga seperti tempat tidur, meja, atau sofa ruang tamu. Tinggal menata sedemikian rupa dan saya bisa bermain rumah-rumahan dengan orang-orangan dari 'kertas bongkar pasang' yang dibeli di warung sebelah seharga 500 rupiah (anak tahun 90'an pasti tahu apa itu mainan bongkar pasang...hihi).
Memiliki mainan yang dibuatkan Ibu seperti itu saja, sudah membuat saya merasa memiliki mainan rumah-rumahan barbie yang harganya jutaan.

Dari apa yang dilakukan Ibu, saya memahami sekarang bahwa memberikan hadiah untuk anak tidak melulu harus mahal. Membuatkan mainan yang dibuat benar-benar dengan ketulusan dan menemani anak untuk ikut bermain merupakan hadiah yang sangat berharga dan tak ternilai bagi anak.
Ah, semoga kelak saya pun mampu menjadi Ibu yang baik untuk anak-anak saya.. Amiin...

#Tantangan10Hari
#Level4
#GayaBelajarAnak
#KuliahBunsayIIP

Sabtu, 22 April 2017

Bermain Peran dengan Adik

TANTANGAN LEVEL 4.5

Ini yang sering kami berdua lakukan di rumah saat belum masuk usia sekolah.
Bermain peran.

Awalnya ayah dan ibu yang sering menemani kami berdua bermain. Memberi contoh dan menemani bermain dengan cara yang mengasyikkan dirumah.
Inilah mengapa kami berdua selalu betah dirumah daripada bermain diluar rumah. Selalu ada teman bermain dan ide bermain yang seru dan mengasyikkan.
Oh ya, ini berlangsung saat kami belum masuk usia sekolah. Ayah dan Ibu lebih memilih membiarkan kedua anaknya bermain dalam pengawasan. Tidak kemudian membiarkan sendirian bermain bersama teman-teman diluar rumah tanpa pengawasan sama sekali.
Kalau toh kami bosan main di dalam rumah, sesekali mereka akan mengajak kami jalan-jalan diluar rumah saat weekend atau memanggil beberapa teman untuk bermain dirumah dan menemani kami bermain. Maklumlah, kami tinggal di kota Surabaya dengan lingkungan warga yang mayoritas Madura. Mungkin orangtua kami berharap anaknya tetap mampu bersosialisasi dan bersikap baik terhadap tetangga tanpa harus terkontaminasi kebiasaan-kebiasan buruk yang mungkin belum bisa sepenuhnya kami filter di usia kami saat itu.

Salah satu permainan mengasyikkan bagi kami berdua adalah 'bermain peran'.
Iya, adik bisa merengek kalau saya tidak mengajaknya ikut serta bermain. Ibu mengajari kami untuk memanfaatkan apa yang ada dirumah. Biasanya kursi-kursi ruang tamu kami tata sedemikian rupa, lalu ditutup dengan kain gendongan (jarik), selimut atau sprei. Sehingga kami bisa memanfaatkan bagian bawahnya untuk main tenda dan bermain rumah-rumahan.

Kami diajarkan banyak hal melalui permainan ini. Misalnya, bagaimana adab bertamu yang baik, bagaimana adab menjadi tuan rumah yang baik. Lain waktu kami akan diajarkan apa saja kelak tugas perempuan dan laki-laki dalam kehidupan rumah tangga. Misalnya perempuan harus bisa memasak, mengelola rumah dengan baik, sementara laki-laki tugasnya bekerja diluar rumah, mampu memperbaiki perabot rumah tangga yang rusak dan lain sebagainya.

Kami selalu lupa waktu saat bermain ini. Biasanya bisa hampir sehari penuh. Kadang sampai tidur pun tetap memilih tidur di dalam rumah-rumahan sampai Ayah atau Ibu meminta kami untuk membereskan mainan.


#Tantangan10Hari
#Level4
#GayaBelajarAnak
#KuliahBunsayIIP

Penitipan Gratis di Toko Buku

TANTANGAN LEVEL 4.4

Apa yang terlintas saat baca judul?
Halaah.. Biasaaa..
Nitipin tas atau jaket sebelum masuk toko buku memang sudah biasa gratis. Tidak dipungut biaya. Alias cuma dikasi nomor rak aja untuk ditukar lagi saat mau pulang dari toko buku.

Tapi inii.. Luar biasaaa..
Nitipin anak..
Mungkin diluar sana juga ada satu dua orangtua yang melakukan hal yang sama. Tapi yang jelas sampai sekarang, Ayah saya masih dengan bangganya bercerita ke orang-orang bahwa tidak sekali dua kali menitipkan saya di toko buku sementara Ayah dan Ibu berkeliling belanja keperluan rumah tangga. Meninggalkan sementara lebih tepatnya.
Iyaa... Zaman ituu.. Saat uang gajian Ayah hanya cukup untuk menutup keperluan rumah tangga sehari-hari saja (belum bisa saving karena masih banyak hal) sementara Ayah tahu betul anak perempuan pertama dan satu-satunya ini cukup 'gila baca' dan butuh buku-buku baru untuk mengisi hari-harinya.
Maka yang terjadi adalah saat waktu belanja bulanan tiba, Ayah Ibu selalu membawa saya ikut serta untuk kemudian ditelantarkan begitu saja di toko buku (haha... ditelantarkan.. Tapi percayalah, bahwa saya selalu menanti-nantikan momen itu, merasa diantarkan ke surga dunia, alih-alih merasa nelangsa karena ditelantarkan).
Sementara ayah dan ibu berkeliling belanja keperluan rumah tangga, saya sibuk sendiri mencapai rak-rak buku anak untuk mencari buku-buku yang bisa dibaca ditempat. Waktu terasa begitu singkat saat disana.

Apakah orangtua saya tidak pernah sama sekali membelikan buku baru?
Tentu saja itu menjadi kado terindah mereka untuk saya. Sesekali saat momen penting saya atau saat ayah memiliki uang lebih, pasti buku yang dibeli untuk dihadiahkan ke saya.
Tetapi bagaimanapun, rasa haus saya akan buku-buku bacaan tunai sudah saat Ayah dan Ibu mengajak ke toko buku untuk akhirnya ditinggalkan sementara disana.
Saya bahagia dan merekapun bisa tenang dan nyaman saat berbelanja. Tidak khawatir hilang entah kemana. Karena mereka paham betul, buku bagi saya lebih menarik dari sekedar jajanan atau mainan anak-anak.

#Tantangan10Hari
#Level4
#GayaBelajarAnak
#KuliahBunsayIIP

Mendongeng Sebelum Tidur

TANTANGAN LEVEL 4.3

Ini juga merupakan salah satu stimulasi yang dilakukan orangtua saya saat saya masih kecil. Yapz.. Mendongeng sebelum tidur.
Dongeng apapun, tetapi selalu tak lupa menyisipkan moral value di akhir cerita. Saya dan adik hanya berjarak usia 16 bulan (hehe.. Mepet banget ya..).  Jadi, tiap malam sebelum tidur kami selalu berkumpul mendengarkan cerita-cerita dari Ayah (didongengin bareng-bareng).

Untuk urusan mendongeng ini,  Ayah lah yang ambil bagian. Mungkin karena kami seharian sudah bersama Ibu (Ibu saya adalah full time mommy) dan baru ketemu ayah saat malam tiba, menjelang tidur. Ayah seorang guru, dan jaman itu sekolahnya masih shift-shift an pagi dan sore. Karena Ayah guru BK, otomatis harus full hampir seharian di sekolah, sampai siswa shift sore pulang sekolah.

Lalu apa yang saya dapatkan dari kegiatan mendongeng sebelum tidur?
Kemampuan berimajinasi.
Entah apakah sama yang dirasakan adik saya dengan saya saat itu. Karena stimulus yang sama diberikan kepada anak yang berbeda, hasilnya bisa jadi tidak sama. Apalagi ada rentang faktor usia juga, meski hanya tepaut 16 bulan.

Hal ini saya sadari saat saya berada di usia sekolah. Saya suka sekali pelajaran Bahasa Indonesia bagian mengarang indah..hehe.. Sampai sekarang pun, menulis merupakan kegiatan yang sangat saya minati.

Saya pahami sekarang bahwa kegiatan sederhana seperti mendongeng sebelum tidur merupakan salah satu stimulasi yang seharusnya mampu dilakukan para orang tua untuk membentuk daya imajinasi dan kreativitas seorang anak.
Malahan zaman sekarang, ada pernyataan juga yang menyebutkan bahwa dongeng mampu membantu untuk membentuk karakter seorang anak.

Saya berharap kelak saat saya memiliki anak, saya pun mampu meneruskan kebiasaan baik ini. Menyempatkan waktu untuk mendongeng atau minimal membacakan buku dongeng untuk anak sebelum tidur.

#Tantangan10Hari
#Level4
#GayaBelajarAnak
#KuliahBunsayIIP

Jumat, 21 April 2017

Menimang dengan Bersenandung

TANTANGAN LEVEL 4.2

Pagi ini mendadak dapat kiriman.
Lumayaaan... Moodboster dikala motivasi tengah menurun drastis.

Langsung punya ide (triiiingg.... *semacam ada lampu menyala diatas kepala) menuliskan beberapa tema yang akan saya paparkan untuk beberapa hari kedepan.
Iya... Karena di usia saya yang hampir memasuki 27 tahun ini,  tentu saja saya akan bercerita tentang masa lalu saya. Mengingat lagi bagaimana orangtua saya mendidik dan memberikan stimulasi untuk perkembangan belajar saya sehingga saya bisa sampai pada tahap yang sekarang ini.
Jadi, saya perlu mencatat poin-poin temanya sesuai ingatan dan supaya runtut ceritanya.
Sedikit flashback lah yaa...

Entah di usia saya yang keberapa saya sudah mampu mengingat hal ini. Satu hal yang pasti saya ingat adalah saat itu saya masih sering digendong ayah dan ibu..
Ayah dan ibu sering sekali menimang saya sambil bersenandung..
Lafadz yang masih saya ingat sampai sekarang adalah :

Laa ilaaha illa Alloh.... 2x
Al malikul haqqul mubin..
Muhammadun Rosululloh..
Shodiqul wa'dil amin..

Entah siang atau malam saat menimang atau saat menidurkan saya, ayah dan ibu sering menyenandungkan lagu..
Hal ini saya pahami sebagai usaha komunikasi yang mereka lakukan dengan saya saat saya belum mampu merangkai kata. Mencoba menstimulasi perkembangan belajar melalui panca indera pendengaran. Satu-satunya indera yang mampu distimulasi lebih dini.
Dan buktinya, saya masih mengingat lafadz itu hingga saat ini meski saya sudah lupa mereka memulai hal itu saat saya di usia keberapa..

#Tantangan10Hari
#Level4
#GayaBelajarAnak
#KuliahBunsayIIP

Kamis, 20 April 2017

Mengumpulkan Remah Semangat yang Tercecer

TANTANGAN LEVEL 4.1

Tantangan bulan keempat...
Alhamdulillah..benar-benar merasakan sebenar-benarnya tantangan..
Kenapa? Banyak sekali hal..

1. Sedang mengalami penurunan semangat di bulan keempat ini.. Dan sudah mencapai taraf sampai kehilangan motivasi (harus makin rajin berdoanya nih supaya Alloh tetap terus menjaga semangat belajarnya... Kapanpun, dimanapun,  dan apapun yang terjadi... Amiin..)

2. Sudah mengkhatamkan baca buku "Bunda Sayang" sejak selesai tantangan bulan ketiga. Sehingga kebiasaan dari kuliah dulu, hobi menebak-nebak masih terbawa sampai sekarang. Haha.. Sudah ketar-ketir setelah baca materi ke4 di buku tentang mengenal gaya belajar anak. Jangan-jangan materi kelas bulan ke4 sekaligus tantangannya tentang ini nih.. Daaan.. Ternyata tebakan benar
Baper lah yang terjadi..
Anak siapa mau dijadikan 'kelinci percobaan'?
Baiklah, harus paham ini bukan kelas matrikulasi lagi. Ini kelas tentang bagaimana mendidik anak.
Kalau belum waktunya sudah ngotot mau masuk kelas, siapa yang salah coba? *wkwkwkwk

3. Seperti biasa sebelum memulai menyelesaikan tantangan, saya selalu diskusi dengan suami. Biar dapat masukan, biar dapat penyegaran dan yang lebih penting biar bisa belajar sama-sama. Disepakatilah bahwa tantangan kali ini 'saya' yang harus rela jadi kelinci percobaan. Suami belum memungkinkan untuk dijadikan bahan narasi dalam tantangan kali ini, karena kelas ini butuh konsistensi narasi, sementara suami lebih banyak diluar kota daripada dirumah. Observasi atau sekedar wawancara pasti akan sangat sulit dilakukan jika harus LDRan, apalagi untuk waktu yang tidak sebentar. Sekalipun sedikit banyak, setelah 1tahun menikah, saya sudah kenal bagaimana gaya belajarnya.

Baiklaaah.. Mari kita nikmati ke'baper'an dalam tantangan kali ini.
Hari-hari selanjutnya saya akan banyak bercerita tentang diri saya sendiri, terutama bagaimana akhirnya saya mampu mengenal gaya belajar saya.

Allohuma yassir wala tu'assir...

Semoga Alloh selalu karuniakan nikmat dan semangat belajar dalam diri dan keluarga kecil saya... Amiin

#Tantangan10Hari
#Level4
#GayaBelajarAnak
#KuliahBunsayIIP

Sabtu, 15 April 2017

Alir rasa "Family Project"

Alhamdulillah tantangan di bulan ketiga kelas Bunda Sayang dirasa sangat luar biasa..
Hehe.. Tantangan yang diberikan tiap bulan sih selalu luar biasa dan selalu memberi kesan mendalam..

Ditanya soal rasa, nano-nano jawabannya..
Bagaimana tidak, kali ini dengan tantangan "family project" nya, mampu menciptakan suasana keluarga di dalam rumah serasa naik roller coaster. Awalnya takut takut untuk mencoba, saat naik merasakan ketegangan luar biasa, seru, heboh, ada rasa semacam kapok,  eh tapi, setelah selesai malah ketagihan untuk naik lagi dan lagi...

Sempat baper sama keluarga lain yang punya pasukan banyak, apalagi yang masih unyu-unyu. Rasanya nggak kehabisan ide untuk bikin 'proyek keluarga' yang baru tiap harinya. Sementara saya masih berdua dengan suami saja dan tinggal jauh dari orangtua pula, jadi family project kami rancang sangat sederhana, yang penting kami berdua komitmen dan konsisten menjalankannya.

Bersyukur memiliki suami yang selalu mendukung sejak awal nyemplung di IIP sampai sekarang, sehingga saya selalu punya motivasi saat harus diminta menyelesaikan sebuah tantangan, saat down dan seringnya saat baper lirik keluarga sana sini udah pada punya pasukan. Sehingga, sekalipun tiap tantangan sementara kami selesaikan hanya berdua, saya cukup merasa punya tim yang kompak dan solid.

Family project kali ini kami fokuskan untuk membentuk kebiasaan baik dari dalam rumah. Kami mulai dengan yang sederhana. Membiasakan sholat wajib diawal waktu.
Kami berdua berharap saat anak kami lahir nanti, kami benar-benar sudah terbiasa melakukan kebiasaan baik ini dan semoga anak kami nantinya mampu meniru dan meneruskan kebiasaan baik yang kami contohkan setiap hari.
Baru satu proyek dan kami sudah sangat excited. Setelah proyek ini berjalan dengan baik, InsyaAlloh kami siap dengan proyek-proyek baru lagi..