Senin, 19 Juni 2017

Day Fifteen

TANTANGAN LEVEL 5.15

Hari kelimabelas...

Mulai sibuk persiapan Hari Raya..
Bersih-bersih rumah, rendam-cuci gorden, bikin tape ketan, sampai bikin kue coklat..

Ditambah rutinitas masak untuk berbuka dan sahur keluarga serta menyiapkan takjil untuk orang-orang di masjid, cukup lumayan menyita waktu dan yang pasti bikin punggung terasa makin wow..

Alhamdulillah pagi-pagi masih sempat membuka beberapa lembar halaman dari buku tulisan Marie Kondo. Inginnya bisa dilanjut siangnya..hehe..ternyata terlanjur lelah dan belum sempat melanjutkan lagi.

Hikmah yang bisa saya ambil setelah membaca beberapa halaman dari bab dua kali ini adalah bahwa sebelum memulai berbenah rumah, Marie Kondo menyuruh kita untuk memvisualisasikan tujuan kita berbenah. Rinci dan detail. Sampai kita sendiri faham dan jelas untuk apa maksud sebenarnya kita harus membenahi rumah, sehingga ketika memulai berbenah, kita tidak lagi setengah-setengah. Benar-benar tuntas dan sampai pada tujuan awal kita berbenah

#GameLevel5
#Tantangan10Hari
#KuliahBunsayIIP
#ForThingsToChangeIMustChangeFirst

Day Fourteen

TANTANGAN LEVEL 5.14

Masih muter di bab 1 di hari keempatbelas ini...

Butuh 'one bit at a time' untuk mencerna seluruh isinya, memahami maksud penulisnya. Bener-bener seperti diobrak abrik rasanya pikiran. Perombakan total mindset yang selama ini, yang hampir puluhan tahun dipelihara...

Salah satu contohnya adalah bahwa selama ini kita seringkali membeli rak atau lemari untuk tempat penyimpanan barang agar tak berserakan. Namun kenyataannya adalah bahwa kita hanya sedang memindahkan barang berantakan tersebut kedalam lemari. Jadi, yang berantakan memang tidak diluar lemari tetapi justru di dalam lemari. Akibatnya, terkadang kita atau anggota keluarga tetap kesulitan saat mencari barang yang dibutuhkan, saking berantakannya....wkwkwk

Contoh lain lagi adalah, tidak jarang dari kita memiliki barang lebih dari satu untuk kategori yang sama, misalnya gunting. Ayah punya gunting, ibu punya, kakak pun juga kadang punya sendiri, padahal ayah, ibu dan kakak tinggal serumah. Hal seperti itu juga merupakan pemicu rumah tampak penuh barang dan berdampak tidak rapi.

Solusi yang ditawarkan penulis adalah :
1. Seluruh anggota keluarga memiliki waktu khusus untuk berbenah. Satu hari penuh.
2. Menyortir barang-barang yang dianggap tidak perlu dan kemudian membuangnya, bukan justru menyimpan
3. Menempatkan barang sesuai kategori, bukan lokasi (misalkan gunting tadi, apabila dirasa perlu memiliki lebih dari dua buah gunting, maka seluruh gunting diletakkan di satu tempat dalam rumah, bukan di kamar ayah sendiri, di ruang tamu ada, di kamar kakak pun juga ada)

Baru baca bab 1 sudah berasa banyak PR untuk beberes rumah..
Semoga segera ada kesempatan eksekusi setelah mudik dan lahiran nanti....

#GameLevel5
#Tantangan10Hari
#KuliahBunsayIIP
#ForThingsToChangeIMustChangeFirst

Day Thirteen

TANTANGAN LEVEL 5.13
Gaji ketigabelaaas...eh..hari ketigabelas..hehe..
Masih berkutat dengan buku tulisan Marie Kondo tentang metode berbenah ala Konmari.
Oya, nama Konmari diambil dari nama penulis sendiri.
Metode berbenah ini merupakan hasil pengalaman panjang penulis mengenai urusan beberes. Trial and error. Sampai akhirnya ia menemukan metode ini dan metode inilah yang ia anggap paling ampuh dan jitu untuk urusan berbenah.
Baru membaca daftar isinya saja tentang bab 1 sudah langsung bersemangat untuk membuka halaman berikutnya.
Dimulai dari kalimat tanya "kenapa kita tidak bisa menjaga kerapian rumah?" sudah bikin saya sebagai pembaca manggut-manggut. Betul sekali, kenapa ya?
Kalau saya sih jujur, mungkin karena ada semacam fikiran "toh bentar diberesin, bakalan berantakan lagi". Jadi, acara beberes rumah rutin paling ya merapikan meja ruang tamu, menyapu, merapikan tempat tidur. Selebihnya, tunggu acara besar kerja bakti seisi rumah.haha...
Di bab 1 ini, banyak sekali mengupas tuntas pemikiran tentang cara-cara berbenah yang kalau boleh saya bilang 'out of the box'.
Bagaimana tidak, selama ini rasanya kita terdoktrin untuk harus selalu merapikan rumah tiap hari, tiap pagi. Tetapi penulis justru menyayangkan pemikiran tersebut.
Kalau rumah perlu dibereskan tiap hari, itu berarti rumah selalu berantakan juga tiap harinya, begitu menurutnya.
Maka idealnya bagi penulis, rumah bisa saja tampak rapi setiap hari meski tak setiap hari kita merapikannya..
Waah, makin penasaran dengan metodenya. Makin penasaran juga buka halaman selanjutnya...
#GameLevel5
#Tantangan10Hari
#KuliahBunsayIIP
#ForThingsToChangeIMustChangeFirst

Day Twelve

TANTANGAN LEVEL 5.12

Hari keduabelas...

Masih semangat puasanya, meski kemarin terpaksa bolong sehari...wkwkwk

Tapi yang jelas, semangat bacanya teteeep...

Hari ini mulai membaca buku yang ditulis Marie Kondo, judulnya Seni Beres-beres dan Metode merapikan ala Jepang.
Buku ini termasuk best seller dunia. Terjual lebih dari 5 juta kopi. Beruntung kenal dengan IIP, jadi tau ada buku se kece ini dari ibu-ibu di grup.

Baru baca pendahuluan sudah excited. Di Jepang, urusan beberes aja bisa dijadikan profesi. Konsultan Berbenah...hihi..
Agak lucu memang, tapi profesi ini nggak main-main ternyata. Penulis yang juga merupakan konsultan berbenah mengklaim bahwa dirinya tidak pernah sama sekali memiliki pelanggan. Itu berarti klien yang pernah datang, tidak pernah kembali kedua kalinya untuk kasus serupa. Kereeeenn....
Pake jurus apa sih berbenahnya??

Yang lebih berbinar-binar lagi saat penulis menceritakan bahwa dirinya sudah tertarik dan rajin membaca majalah interior dan gaya hidup sejak usia 5 tahun. Bayangkan! 5 tahun. Dan dia sudah tahu harus kemana melangkahkan kakinya untuk hidup, separuh lebih perjalanan menemukan peran peradabannya.

Sejak itu, penulis mulai fokus dan usia 15 tahun sudah benar-benar serius menjajaki seni berbenah.

Kemudian muncul pertanyaan dalam hati saya, bagaimana orangtuanya ya? Bisa sekeren itu membimbing anaknya? (agak diluar topik sih, tapi serius penasaran)

Ehmm...baru baca pendahuluan berasa banyak hikmah yang didapat, besok mulai sharing apa aja sih isi bab pertamanya?

#GameLevel5
#Tantangan10Hari
#KuliahBunsayIIP
#ForThingsToChangeIMustChangeFirst

Minggu, 18 Juni 2017

Day Eleven

TANTANGAN LEVEL 5.11

Day Eleven...
Hehe...jadi ingat judul film Critical Eleven..

Oke..hari kesebelas..
Sempat K.O pagi tadi sampai menjelang siang. Entah sepertinya salah makan waktu sahur atau bagaimana.

Hari kemarin sudah mengkhatamkan buku Happy Little Soul..
Acara mudik kali ini sengaja membawa buku lebih dari satu karena memang agak lama dirumah mertua.

Biasanya cukup membawa satu buku sebagai pengusir bosan, itupun kadang tak tersentuh saking padatnya jadwal dan banyaknya apa yang harus dilakukan.

Oke..hari ini sudah memilih satu buku yang akan dibaca, dengan penulis Marie Kondo.
Buku yang familier di kalangan ibu-ibu IIP...hehe..
Saya tertarik membeli juga karena testimoni sesama teman di grup IIP.
Betul, beberes rumah ala metode Konmari.

Hmm...happy reading

#GameLevel5
#Tantangan10Hari
#KuliahBunsayIIP
#ForThingsToChangeIMustChangeFirst

Sabtu, 17 Juni 2017

Day Ten

TANTANGAN LEVEL 5.10

Hari Kesepuluuuh....

Nggak nyangka ternyata di hari kesepuluh ini juga merupakan bab terakhir saya membaca buku Happy Little Soul..
Padahal nggak disetting..hihi..

Bab terakhir ini penulis mengupas tuntas bagaimana menjadi ibu yang bahagia.
Kalau di IIP mungkin sama seperti bagaimana ibu-ibu tetap menjaga kewarasan di tengah banyaknya urusan domestik rumah tangga yang harus diselesesaikan, belum lagi ibu-ibu yang memilih bekerja juga di ranah publik.

Berikut tips dan triknya ala Ibu Kirana:
1. Meredakan perasaan bersalah
2. Berpikir positif dan mengatur emosi
3. Memaafkan diri sendiri dan belajar dari kesalahan
4. Mencari teman
5. Mencoba bersabar
6. Istighfar
7. Memosisikan diri sebagai anak dan sadar bahwa dirinya adalah seorang Ibu
8. Menyadari bahwa menjadi Ibu adalah ladang pahala
9. Meminta maaf ketika melakukan kesalahan
10. Tidak mudah marah dengan hal-hal kecil
11. Meminta pengertian dan pertolongan suami

Terlihat perfect memang. Namun kenyataannya, Ibu Kirana hanyalah seorang manusia yang pernah salah dan khilaf juga. Penulis menceritakan bahwa dirinya pernah sangat emosi di hadapan putrinya. Namun ternyata ia menyadari bahwa hal tersebut tidak menyelesaikan masalah dan justru setelahnya, ia merasa sangat bersalah.
Jadi, tips dan trik diatas merupakan hasil trial error dan pengalaman panjang Ibu Kirana dalam mengasuh putrinya.

Sekilas terlihat mudah, hmmm....entah bagaimana nanti prakteknya ya?..

#GameLevel5
#Tantangan10Hari
#KuliahBunsayIIP
#ForThingsToChangeIMustChangeFirst

Jumat, 16 Juni 2017

Day Nine

TANTANGAN LEVEL 5.9

It's OK, I'm Special!!

Memasuki hari kesembilan..
Bab selanjutnya penulis banyak mengulas tentang mantra sakti diatas.

Hari ini masih santai dirumah mertua. Hanya melakukan rutinitas seperti biasa. Masak untuk berbuka sore hari dan menyiapkan takjil untuk dikirim ke masjid.
Jadi bisa membaca dengan tenang dan menghayati apa yang ditulis oleh penulis di buku Happy Little Soul.

Bab kali ini penulis lebih banyak bercerita, atau lebih tepatnya curhat.hehe...
Kirana, putri kecilnya terlahir berbeda dengan teman-teman lainnya. Ia menderita dermatitis atropi atau semacam eksim yang juga merupakan turunan darinya. Hanya saja perbedaannya, penulis sembuh saat usianya memasuki 7 bulan. Sementara Kirana harus menderita penyakit tersebut bahkan sampai usianya menginjak 3 tahun.

Karena penyakit inilah, putrinya memiliki jam tidur yang sangat berantakan. Tidak jarang malam menjadi siang, siang menjadi malam. Namun hal itu tidak mengurangi rasa syukur penulis memiliki anak seperti Kirana. Bahkan selain penyakit yang satu itu, menurut saya Kirana adalah anak yang nyaris sempurna dengan segala apa yang dimilikinya.
Bayangkan, di usianya yang masih terbilang muda, ia sudah sangat cerdas dan memiliki empati yang sangat tinggi. Kalau toh sampai menjadi fenomena di media sosial, hal itu merupakan bonus.

Bagi saya, sejauh ini ibunya cukup berhasil membersamai Kirana hingga akhirnya ia memiliki karakter kepribadian yang cukup unik yang mampu menyihir banyak orang.
Ya, dibalik kekurangan yang ia miliki, pribadi Kirana cukup keren dengan mantra sakti yang diajarkan ibunya "It's Ok, I'm Special!!"

#GameLevel5
#Tantangan10Hari
#KuliahBunsayIIP
#ForThingsToChangeIMustChangeFirst